Saya Pastikan:)
Saya pernah menjadi bagian dari sebuah lingkaran yang sakral, penuh tradisi, sejuta masalah, berjuta kenangan dan melelahkan. Tapi masa ini merupakan masa-masa penuh pembelajaran yang disertai dengan teriakkan, amarah, tangis, gunjingan, keringat, cibiran, dan keluhan. Kenapa? Ya, mengapa semuanya berkonteks negatif? Haha, justru itu hal positifnya. Saya pastikan, itu adalah masa-masa yang akan terus terkenang dan mungkin tidak akan berdampak sama pada setiap orang.
Perkenalkan, saya Sekretaris 2 PMB 2017, yang dulu diajak oleh yang sekarang menjadi partner abadi Sekretaris 1 saya, Rizkah Shalihah. Sekali lagi, saya pastikan-meski pernah terucap-saya tidak menyesal mengangguk atas pertanyaanmu saat itu.
Oke, ayo mundur ke belakang. SMANSA mengajarkan saya sejuta pelajaran mengenai kaderisasi, which I get a lot. PMB 2016 mengajarkan saya untuk bersatu, bersama, dan meniti langkah awal di tempat yang bahkan bukan merupakan bagian dari rencana saya dulu. Menjadi peserta saat itu--meski diiring dengan sejuta keluh kesah maba (Ya, namanya juga maba) --saya senang bisa mengenal Omega. Dua hal itu menjadi sebuah dilema saat suatu hari pada liburan Desember 2016 saya diajak kembali untuk ikut PMB. Bukan sebagai maba, tapi sebagai panitia, sebagai BPH, sebagai PI, sebagai Sekretaris. "Kok aku?" "Lihat di CV kamu, sering jadi Sekre, cari deh namanya", gitu kata Rizkah. Kalo nanya sekarang, nyesel ga milih dita?
Awal semester dua, hari pertama masuk, hari pertama resmi bukan maba--yang lagi mabim--sudah menjadi budak rapat. Pulang-pergi Bogor-Depok setiap hari, rapat 3 kali seminggu. Udah ngalah-ngalahin PR PSD yang cuman sekali seminggu (hmm, gimana?). Nyampe rumah jam 10/11, dimarahi Umi Abi, sampe dibodoamatin akhirnya. 6-10 jam formal per minggu bahas maba, bahas PMB, bahas semua hal yang bahkan belum ada. Waktu sisanya, ya dihabiskan bikin preproposal. Disini, saya menjadi anak kecil, yang seakan-akan baru netas dari telurnya. Diajak brainstroming bersama orang-orang yang notabenenya lebih dewasa dan lebih mengerti, memaksa saya untuk mengejar. Belajar hal-hal dan teori kaderisasi yang membuat saya berfikir "loh ternyata ada yg kaya gini?". Membuat gebrakan aneh berdasar mimpi, mencari reasoning untuk maju.
Disini saya bertemu orang-orang aneh. Tukang marah tapi suka senyum, tukang senyum tapi suka ninggalin, tukang diam yang menyebalkan, orang pintar yang ikut lupa, orang pintar yang selalu ada, orang lugu dan polos, orang baik yang helpful, orang ngide, orang bersuara besar, orang bersuara kecil, daaaan lain-lain. Aneh. Bahkan saya bingung, bisa-bisanya sejuta karakter ini bersama-sama selama setahun dibersamai oleh berjuta negativity yang disebarkan pihak-pihak lain. Pihak-pihak lain, ya, ada banyak.
Berjalan 1 tahun bersama orang-orang ini membuat saya mengerti bahwa hidup tidak melulu tentang kamu yang dikuatkan, tapi kamu yang memohon agar orang lain berdiri dan bangkit untuk menjadi kuat bersama sama.
Saya juga mengerti bahwa presensi itu berharga. Hadir untuk selalu ada dan tetap kuat, disaat beberapa orang yang lain tidak bisa dan tidak mampu atau bahkan tidak mau. Belum lagi kalau ada yang menentang dari luar. Huft😢
Disini saya mengalami adu mulut paling hebat, mengeluarkan air mata paling banyak, dan mengusap peluh paling sering.
Tapi saya pastikan, kalau kamu tidak akan mendapatkan pembelajaran yang sama kalau kamu tidak ikut andil disini. Saya pastikan, ini akan jd sebuah pembelajaran. dan saya pastikan juga, saya bisa menjadi lebih kuat.
Tapi, dari sini saya mengerti apa artinya ikhlas dan tidak mengharap apapun selain pada Allah. Saya mengerti bahwa seorang perempuan harus kuat; memiliki pendirian dan tegas. Saya mengerti bahwa tidak semua orang mengerti setiap keinginan kamu, tapi ada orang yang mau membantu; cari orang seperti mereka. Saya mengerti.
Terimakasih, 2017!
Bismillah untuk 2018!❤
Perkenalkan, saya Sekretaris 2 PMB 2017, yang dulu diajak oleh yang sekarang menjadi partner abadi Sekretaris 1 saya, Rizkah Shalihah. Sekali lagi, saya pastikan-meski pernah terucap-saya tidak menyesal mengangguk atas pertanyaanmu saat itu.
Oke, ayo mundur ke belakang. SMANSA mengajarkan saya sejuta pelajaran mengenai kaderisasi, which I get a lot. PMB 2016 mengajarkan saya untuk bersatu, bersama, dan meniti langkah awal di tempat yang bahkan bukan merupakan bagian dari rencana saya dulu. Menjadi peserta saat itu--meski diiring dengan sejuta keluh kesah maba (Ya, namanya juga maba) --saya senang bisa mengenal Omega. Dua hal itu menjadi sebuah dilema saat suatu hari pada liburan Desember 2016 saya diajak kembali untuk ikut PMB. Bukan sebagai maba, tapi sebagai panitia, sebagai BPH, sebagai PI, sebagai Sekretaris. "Kok aku?" "Lihat di CV kamu, sering jadi Sekre, cari deh namanya", gitu kata Rizkah. Kalo nanya sekarang, nyesel ga milih dita?
Awal semester dua, hari pertama masuk, hari pertama resmi bukan maba--yang lagi mabim--sudah menjadi budak rapat. Pulang-pergi Bogor-Depok setiap hari, rapat 3 kali seminggu. Udah ngalah-ngalahin PR PSD yang cuman sekali seminggu (hmm, gimana?). Nyampe rumah jam 10/11, dimarahi Umi Abi, sampe dibodoamatin akhirnya. 6-10 jam formal per minggu bahas maba, bahas PMB, bahas semua hal yang bahkan belum ada. Waktu sisanya, ya dihabiskan bikin preproposal. Disini, saya menjadi anak kecil, yang seakan-akan baru netas dari telurnya. Diajak brainstroming bersama orang-orang yang notabenenya lebih dewasa dan lebih mengerti, memaksa saya untuk mengejar. Belajar hal-hal dan teori kaderisasi yang membuat saya berfikir "loh ternyata ada yg kaya gini?". Membuat gebrakan aneh berdasar mimpi, mencari reasoning untuk maju.
Disini saya bertemu orang-orang aneh. Tukang marah tapi suka senyum, tukang senyum tapi suka ninggalin, tukang diam yang menyebalkan, orang pintar yang ikut lupa, orang pintar yang selalu ada, orang lugu dan polos, orang baik yang helpful, orang ngide, orang bersuara besar, orang bersuara kecil, daaaan lain-lain. Aneh. Bahkan saya bingung, bisa-bisanya sejuta karakter ini bersama-sama selama setahun dibersamai oleh berjuta negativity yang disebarkan pihak-pihak lain. Pihak-pihak lain, ya, ada banyak.
Berjalan 1 tahun bersama orang-orang ini membuat saya mengerti bahwa hidup tidak melulu tentang kamu yang dikuatkan, tapi kamu yang memohon agar orang lain berdiri dan bangkit untuk menjadi kuat bersama sama.
Saya juga mengerti bahwa presensi itu berharga. Hadir untuk selalu ada dan tetap kuat, disaat beberapa orang yang lain tidak bisa dan tidak mampu atau bahkan tidak mau. Belum lagi kalau ada yang menentang dari luar. Huft😢
Disini saya mengalami adu mulut paling hebat, mengeluarkan air mata paling banyak, dan mengusap peluh paling sering.
Tapi saya pastikan, kalau kamu tidak akan mendapatkan pembelajaran yang sama kalau kamu tidak ikut andil disini. Saya pastikan, ini akan jd sebuah pembelajaran. dan saya pastikan juga, saya bisa menjadi lebih kuat.
Tapi, dari sini saya mengerti apa artinya ikhlas dan tidak mengharap apapun selain pada Allah. Saya mengerti bahwa seorang perempuan harus kuat; memiliki pendirian dan tegas. Saya mengerti bahwa tidak semua orang mengerti setiap keinginan kamu, tapi ada orang yang mau membantu; cari orang seperti mereka. Saya mengerti.
Terimakasih, 2017!
Bismillah untuk 2018!❤
Comments
Post a Comment