I still cant get over it
Teringat masa masa itu, berjalan sangat pagi bahkan matahari pun heran siapa gadis berkerudung ini yang datang mendahului. Mengenakan sepatu kekecilan yang bunyinya sangat terdengar setiap langkah melaju.
Duduk di altar sembari menanti matahari. Menulis di buku tulis yang begitu tebal, hmmm bukan buku pelajaran, buku PR pun apalagi. Ya buku regen. Menulis essay, atau tugas harian, berharap tidak ada penambahan seri hari ini yang membebankan calon keluarga lagi. Keluarga? hm ya terlalu banyak lingkaran keluarga saya di smansa. Kali ini, saya ingin lebih spesifik pada yang katanya keluarga penyelam??
OSIS Oddysey.
Ya, saya memang baru di lingkaran ini. Datang sebagai perwakilan Ar-Rahmah merepresentasikan bahwa keseimbagannya memang seharusnya ada. Perkenalkan saat saya menjadi Fannyah Dita Cahya, Ca Rohis. Hahaha regen.
Kembali ke kisah hectic pagi. Pake ID penitiin di baju sampe baju bolon-bolong. Belum kalau ID nya banyak. Ditambah lagi ID nya robek karna ketarik-tarik peniti. Huf. Lalu baris. Sikap sempurna. Buka. Kultum. Hmmm dan pertanyaan siapa yang belum datang. Ditanya-tanya tentang apapun, ID, nama OSIS, nama kamu siapa?! Kumpul selesai, masuk kelas, katanya belajar. Tapi pikiran melayang menjauh dari Biologi yang sedang dijelaskan Bu Cucu atau Fisikanya Pak Yusuf. Hmm, seleha-leha itu saya dulu. Kami.
Pulang sekolah, seharusnya bahagia pulang tidur istirahat. Wow tidak. Baris lagi, kumpul lagi, ini lagi-itu lagi.
Tapi, ini menyenangkan. Izin di tempat lain, atau izin di sini untuk ke tempat lain. Serindu itu saya sama sibuk. Merasa dibutuhkan dimana-mana. Padahal mah sia weh nu hayang sibuk.
Regen di tempat lain (baca: DKM) sangat amat beda. Dua kali regen, tidak ada bedanya. Sesantai dan selembut itu saya di sana.
Di sini, wow. Hari pertama kabinet, kaget.
Tapi, semua orang se-welcome itu. Dan disini, saya pertama kali diajari pulang malam. Pulang malam tanpa izin sih. Tapi terima kasih atas pengalaman ini, saya jadi tahu apa trik-trik yang bisa dilakukan dan berguna sampai sekarang. Tapi seperti kalimat yang terkenal itu, "terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk". Saya belajar itu disini.
Ya initinya, saya tahu apa yang harus saya lakukan dan saya harus tegas. Ya, tegas pada apapun. Terlebih komitmen.
Masa-masa menjabat juga tidak kalah memorable. Berangkat sepagi regen, pulang semalam informal (hwa dulu gapernah ikut informal yang sampe subuh-nginep-gitu sih hwe jadi yha begitu).
Saya sangat amat belajar banyak disini. Sesedih itu saat menjadi panitia mopd. Sesedih itu juga jadi osdem. Sesedih itu, saat sudah menjadi sipil. Sesedih itu pula saat saat terakhir meneriakkan jargon di lapangan dalam. "Fight fight OSIS fight, Win win OSIS win. Fight Fight Fight Win Win Win. OSIS SMA 1!".
Intinya saya sedih atas perpisahan apapun dengan smansa. Seandainya masa SMA bisa di extend (udah kaya inheritance) I will definitely sign up for that. Atau kuliahnya kaya smansa deh:(
Intinya saya sedih atas perpisahan apapun dengan smansa. Seandainya masa SMA bisa di extend (udah kaya inheritance) I will definitely sign up for that. Atau kuliahnya kaya smansa deh:(
Seperti judul, I still cant get over it.
Terima kasih atas rindunya, menjadi bagian dari orang-orang paling tidak tidur sepanjang SMANSADAY, menjadi bagian dari kisah terindah saat mengenakan rok abu-abu. Mantra kecil yang selalu tertanam entah dalam setiap konteks kehidupan sampai saat ini. Fight and Win.
Terima kasih atas rindunya, menjadi bagian dari orang-orang paling tidak tidur sepanjang SMANSADAY, menjadi bagian dari kisah terindah saat mengenakan rok abu-abu. Mantra kecil yang selalu tertanam entah dalam setiap konteks kehidupan sampai saat ini. Fight and Win.
Saya bukan seorang cengeng yang selalu merindukan masa SMA. Tapi ini smansa, dan kamu tidak akan bisa mengerti.
Comments
Post a Comment